KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kami ucapkan ke hadirat
Allah SWT, karena dengan ridha-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.
Ucapan Terima Kasih Penulis ucapkan Kepada :
1.
Bapak Sulton Jasmani. yang sudah memberikan tugas dan petunjuk kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
2.
Teman-teman yang
sudah membantu
3.
Rekan-rekan semua di
Kelas B MPK Dasar-dasar Ilmu Pendidikan FKIP
Universitas Lampung
4.
Semua pihak yang
tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam
penulisan makalah ini.
Dalam
penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan dalam menemukan
materi. Namun, berkat bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya,
Makalah Hakikat Manusia Dan Pengembangannya ini dapat diselesaikan, walaupun
masih banyak kekurangannya.
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak memiliki kekurangan.
Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang positif agar
makalah ini menjadi lebih baik dan bermanfaat di masa yang akan datang.
Penulis
berharap semoga laporan ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Khususnya
untuk mahasiswa program studi pendidikan sejarah Universitas Lampung.
Bandar lampung, 24 september 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
Latar
Belakang...............................................................................................................1
Fokus
Masalah...............................................................................................................1
Rumusan
Masalah..........................................................................................................1
Tujuan............................................................................................................................1
BAB II
PEMBAHASAN..........................................................................................................2
Hakikat
Manusia............................................................................................................2
Dimensi-dimensi
Manusia..............................................................................................2
Pengenbangan
dimensi-dimensi
Manusia......................................................................5
Sosok
manusia di Indonesia...........................................................................................6
BAB III
PENGUTUP...............................................................................................................7
Kesimpulan....................................................................................................................7
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................................8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Manusia merupakan tujuan atau objek sasaran
pendidikan. Sehingga calon pendidik atau calon guru harus memahami tentang
hakikat manusia dan pengembangannya.Manusia
memiliki sifat hakikat yang merupakan karakteristik manusia yang membedakan
dengan mahluk lainnya. Sifat hakikat inilah merupakan landasan dan arah dalam
merancang dan melaksanakan komunikasi transaksional di dalam interaksi
edukatif. Oleh karena itu sasaran pendidikan adalah manusia dimana pendidikan
bertujuan menumbuh kembangkan potensi kemanusiannya. Agar pendidikan dapat
dilakukan dengan tepat dan benar, pendidikan harus memiliki gambaran yang jelas
siapa manusia sebenarnya. Manusia adalah mahluk Tuhan yang paling sempurna yang
memiliki ciri khas yang secara prinsipil bereda dari hewan. Ciri khas manusia
yang membedakan dengan hewan ialah hakikat manusia. Disebut hakikat manusia
karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki manusia dan tidak dimiliki
hewan. Dengan pemahaman yang jelas tentang hakikat manusia maka seorang
pendidik diharapan dapat membuat peta karakteristik manusia, sebagai acuan
baginya dalam bersikap, menyusun strategi, metode, dan teknik.
1.2 Fokus Masalah
Menjelaskan
apa pengertian hakikat manusia dan bagaimana cara pengembangannya
1.3 Rumusan Masalah
a) Apakah yang dimaksud hakikat manusia?
b) Apa
saja yang disebut sebagai dimensi hakikat manusia?
c) Bagaimana
mengembangkan dimensi hakikat manusia?
d) Bagaimana
gambaran sosok manusia indonesia?
1.4 Tujuan Penulisan
a)
Untuk memenuhi salah satu tugas dalam
mata kuliah pengantar pendidikan
b)
Untuk memahami tetang sifat hakikat
manusia
c)
Untuk memahami dimensi-dimensi hakikat manusia
d)
Untuk memahami pengembangan dimensi hakikat manusia
e)
Untuk mengenal sosok manusia indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Manusia
Tuhan menciptakan mahluk hidup diduinia ini atas
berbagai jenis dan tingkatan. Dari berbagai jenis dan tingkatan mahluk hidup
tersebut manusia adalah mahluk yang paling mulia dan memiliki berbagai
kelebihan.
Keberadaan manusia apabila
dibandingkan dengan mahluk lain(hewan), selain memiliki insting sebagaimana
yang dimiliki hewan, manusia adalah mahluk yang memiliki beberapa kemampuan
antara berfikir, rasa keindahan, perasaan batiniah, harapan, menciptakan dan
lain-lain.sedangkan kemampuan hewan lebih bersifat insting dan kemampuan
berfikir yang rendah untuk mencari makan, mempertahankan diri dan
mempertahankan kelangsungan hidupjenisnya.lain halnya dengan manusia,
selain memiliki insting manusia juga mampu berfikir(homo sapiens), mampu
mengubah dan menciptakan segala sesuatu sesuai dengan rasa keindahan dan
kebutuhan hidupnya. Lebih dari itu manusia adalah mahluk moral dan religious.
Dari penjelasan tentang perbedaan manusia dan hewan,
maka mucul beberapa pandangan tentang hakikat manusia sebagai berikut:
1. Pandangan psikoanalitik
a) Tokoh
psikoanalitik (Hansen, stefic, wanner, 1977) menyatakan bahwa manusia pada
dasarnya digerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif. Tingkah laku seseorang
ditentukan dan dikontrol oleh kekuatan
psikologis yang sudah ada pada diri seseorang, tidak ditentukan oleh
nasibnya tetapi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan insting biologisnya.
b) Sigmund
freud mengemukakan bahwa struktur kepribadian seseorang terdiri dari tiga
komponen yakni: ide, ego, super ego. Masing-masing komponen tersebut merupakan
berbagai insting kebutuhan manusia yang mendasari perkembangan manusia.
2. Pandangan Humanistik
a) Pandangan Humanistik(Hansen, dkk, 1977)
menolak pandangan Freud bahwa manusia pada dasarnya tidak rasional, tidak
tersosialisasikan dan tidak memiliki control terhadapnasibnya sendiri. Tokoh
Humanistik (Roger) berpendapat bahwa manusia itu memiliki dorongan untuk
menyerahkan dirinya sendiri kearah positif, manusia itu rasional,
tersosialisasikan, mengatur, dan mengontrol dirinya sendiri.
b)
Pandangan Adler (1954), bahwa manusia tidak semata-mata digerakkan oleh
dorongan untuk memuaskan dirinya sendiri, namun digerakkan oleh rasa tanggung
jawab social serta oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu.
Setelah mengikuti beberpa pendapat tentang manusia
diatas dapat ditarik beberapa pengertian bahwa:
1) Manusia pada dasarnya
memiliki “tenaga dalam” yang mengerakkan hidupnya untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya.
2) Dalam diri manusia
ada fungsi yang bersifat rasional dan bertanggung jawab atas tingkah laku
social dan rasional individu.
3) Manusia mampu
mengarahkan dirinya ke tujuan posotif, mampu mengatur dan mengontrol dirinya
dan mampu menetukan “nasibnya” sendiri.
4) Manusia pada
hakikatnya dalam proses berkembang terus tidak pernah selesai.
5) Dalam hidupnya
individu melibatkan dirinya dlam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri,
membantu orang lain, dan membantu dunia lebih baik untuk ditempati.
6) Manusia merupakan
suatu keberadaan berpotensi yang perwujudannya merupakan ketakterdugaan, namun
potensi ini terbatas.
7) Manusia adalah mahluk
tuhan yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
8) Lingkungan adalah
penentuan tingkah laku manusia dan tingkah laku ini merupakan wujud kepribadian
manusia.
2.2 Dimensi-dimensi Manusia
Seseorang (individu manusia) yang sejak kelahirannya (dari penciptaannya) dibekali dengan hakikat manusia untuk pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya, ia dilengkapi dengan dimensi-dimensi kemanusiaan yang melekat pada diri individu itu. Dimensi-dimensi itu adalah:
1. Dimensi keindividualan
2. Dimensi kesosialan
3. Dimensi kesusilaan
4. Dimensi keberagamaan
Seseorang (individu manusia) yang sejak kelahirannya (dari penciptaannya) dibekali dengan hakikat manusia untuk pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya, ia dilengkapi dengan dimensi-dimensi kemanusiaan yang melekat pada diri individu itu. Dimensi-dimensi itu adalah:
1. Dimensi keindividualan
2. Dimensi kesosialan
3. Dimensi kesusilaan
4. Dimensi keberagamaan
1. Dimensi Keindividualan
Manusia sebagai makhluk keindividualan dimaksudkan sebagai orang yang utuh, yang terdiri dari kesatuan fisik dan psikis. Kandungan dimensi keindividualan adalah potensi dan perbedaan. Di sini dimaksudkan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki potensi, baik potensi fisik maupun mental-psikologis, seperti kemampuan intelegensi, bakat dan kemampuan pribadi lainnya. Potensi ini dapat berbeda-beda antar individu. Ada individu yang berpotensi sangat tinggi, tinggi, sedang, kurang dan kurang sekali.
Keberadaan manusia sebagai individual bersifat unik artinya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap manusia sama mempunyai mata, telinga, kaki dan anggota tubuh lainnya, namun tidak ada yang sama persis bentuknya, karena setiap orang kelak akan diminta pertangungjawaban atas sikap perilakunya. Kesadaran manusia akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia, ini mencakup pengertian yang sangat luas, antaranya kesadaran akan diri antara realitas, self respect, self narcisme, egoisme dll. Manusia sebagai individu memiliki hak sebagai kodrat alami atau anugerah Tuhan kepadanya. Hak asasi sebagai pribadi terutama hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak memiliki. Konsekuensi dari adanya hak, maka manusia menyadari kewajiban-kewajiban dan tangung jawab moralnya.
Manusia sebagai makhluk keindividualan dimaksudkan sebagai orang yang utuh, yang terdiri dari kesatuan fisik dan psikis. Kandungan dimensi keindividualan adalah potensi dan perbedaan. Di sini dimaksudkan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki potensi, baik potensi fisik maupun mental-psikologis, seperti kemampuan intelegensi, bakat dan kemampuan pribadi lainnya. Potensi ini dapat berbeda-beda antar individu. Ada individu yang berpotensi sangat tinggi, tinggi, sedang, kurang dan kurang sekali.
Keberadaan manusia sebagai individual bersifat unik artinya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap manusia sama mempunyai mata, telinga, kaki dan anggota tubuh lainnya, namun tidak ada yang sama persis bentuknya, karena setiap orang kelak akan diminta pertangungjawaban atas sikap perilakunya. Kesadaran manusia akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia, ini mencakup pengertian yang sangat luas, antaranya kesadaran akan diri antara realitas, self respect, self narcisme, egoisme dll. Manusia sebagai individu memiliki hak sebagai kodrat alami atau anugerah Tuhan kepadanya. Hak asasi sebagai pribadi terutama hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak memiliki. Konsekuensi dari adanya hak, maka manusia menyadari kewajiban-kewajiban dan tangung jawab moralnya.
2. Dimensi Kesosialan
Manusia disamping sebagai mahluk individual, dia juga mahluk sosial. Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial tampak dalam kenyataan bahwa tidak ada yang mampu hidup sebagai manusia tanpa bantuan orang lain. Manusia hidup dalam suasana interdependensi, dalam antar hubungan dan antaraksi.
Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Kandungan dimensi kesosialan adalah komunikasi dan kebersamaan. Dengan bahasa (baik bahasa verbal maupun non-verbal, lisan maupun tulisan) individu menjalin komunikasi atau hubungan dengan individu lain. Di samping itu individu juga menggalang kebersamaan dengan individu lain dalam berbagai bentuk, seperti persahabatan, keluarga, kumpulan dan organisasi (non formal dan formal).
Sifat sosialitas menjadi dasar dan tujuan dari kehidupan manusia yang sewajarnya atau menjadi dasar dan tujuan setiap anak dan kelompoknya. Setiap anak pasti terlibat dalam kehidupan sosial pada setiap waktu. Sebagai makhluk sosial, mereka saling membutuhkan, saling membantu, dan saling melengkapi. Manusia akan selalu berinteraksi dengan manusia lain untuk mencapai tujuan hidupnya, dan interaksi tersebut merupakan wadah untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Yang dimaksud dengan interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana tingkah laku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki tingkah laku yang lain.
Manusia disamping sebagai mahluk individual, dia juga mahluk sosial. Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial tampak dalam kenyataan bahwa tidak ada yang mampu hidup sebagai manusia tanpa bantuan orang lain. Manusia hidup dalam suasana interdependensi, dalam antar hubungan dan antaraksi.
Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Kandungan dimensi kesosialan adalah komunikasi dan kebersamaan. Dengan bahasa (baik bahasa verbal maupun non-verbal, lisan maupun tulisan) individu menjalin komunikasi atau hubungan dengan individu lain. Di samping itu individu juga menggalang kebersamaan dengan individu lain dalam berbagai bentuk, seperti persahabatan, keluarga, kumpulan dan organisasi (non formal dan formal).
Sifat sosialitas menjadi dasar dan tujuan dari kehidupan manusia yang sewajarnya atau menjadi dasar dan tujuan setiap anak dan kelompoknya. Setiap anak pasti terlibat dalam kehidupan sosial pada setiap waktu. Sebagai makhluk sosial, mereka saling membutuhkan, saling membantu, dan saling melengkapi. Manusia akan selalu berinteraksi dengan manusia lain untuk mencapai tujuan hidupnya, dan interaksi tersebut merupakan wadah untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Yang dimaksud dengan interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana tingkah laku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki tingkah laku yang lain.
3. Dimensi Kesusilaan
Manusia adalah mahluk susila. Dritarkara mengatakan manusia susila, yaitu manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati, dan mewujudkan dalam perbuatan.
Kandungan dimensi kesusilaan adalah nilai dan moral. Dalam dimensi ini digarisbawahi kemampuan dasar setiap individu untuk memberi penghargaan terhadap sesuatu, dalam rentang penilaian tertentu. Sesuatu dapat dinilai sangat tinggi, sedang, ataupun rendah. Penilaian yang dibuat oleh sekelompok individu tentang sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan bersama sering kali ditetapkan sebagai standar baku. Standar baku inilah yang selanjutnya dijadikan patokan untuk menetapkan boleh tidaknya sesuatu hal dilakukan oleh individu (terutama individu yang berada di dalam kelompok yang dimaksud). Inilah yang disebut moral. Individu dalam kelompok yang bersangkutan harus mengikuti ketentuan moral tersebut. Ketentuan moral itu biasanya diikuti oleh sanksi atau bahkan hukuman bagi pelanggarnya. Sumber moral adalah agama, adat, hukum ilmu, dan kebiasaan.
Masalah kesusilaan maka akan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia, mengandung makna kebaikan, keluhuran kemuliaan dan dijadikan pedoman hidup. Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan nilai-nilai susila dan melaksanakannya. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan manusia, bila memiliki nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Manusia adalah mahluk susila. Dritarkara mengatakan manusia susila, yaitu manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati, dan mewujudkan dalam perbuatan.
Kandungan dimensi kesusilaan adalah nilai dan moral. Dalam dimensi ini digarisbawahi kemampuan dasar setiap individu untuk memberi penghargaan terhadap sesuatu, dalam rentang penilaian tertentu. Sesuatu dapat dinilai sangat tinggi, sedang, ataupun rendah. Penilaian yang dibuat oleh sekelompok individu tentang sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan bersama sering kali ditetapkan sebagai standar baku. Standar baku inilah yang selanjutnya dijadikan patokan untuk menetapkan boleh tidaknya sesuatu hal dilakukan oleh individu (terutama individu yang berada di dalam kelompok yang dimaksud). Inilah yang disebut moral. Individu dalam kelompok yang bersangkutan harus mengikuti ketentuan moral tersebut. Ketentuan moral itu biasanya diikuti oleh sanksi atau bahkan hukuman bagi pelanggarnya. Sumber moral adalah agama, adat, hukum ilmu, dan kebiasaan.
Masalah kesusilaan maka akan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia, mengandung makna kebaikan, keluhuran kemuliaan dan dijadikan pedoman hidup. Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan nilai-nilai susila dan melaksanakannya. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan manusia, bila memiliki nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut.
4. Dimensi Keberagamaan
Manusia adalah mahluk religius. Sejak zaman dahulu nenek moyang manusia meyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan kekuatan tersebut ditempuh dengan ritual agama.
Beragama merupakan kebutuhan manusia, karena manusia adalah mahluk yang lemah memerlukan tempat bertopang demi keselamatan hidupnya. Agama sebagai sandaran manusia. Penanaman sikap dan kebiasaan beragama dimulai sedini mungkin, yang melaksanakan dikeluarga dan dilanjutkan melalui pemberian pendidikan agama di sekolah.
Kandungan dimensi keberagaman adalah iman dan takwa. Dalam dimensi ini terkandung pemahaman bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk mempercayai adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa serta mematuhi segenap aturan dan perintah-Nya. Keimanan dan ketakwaan ini dibahas dalam agama yang dianut oleh individu. Kitab suci agama serta tafsir yang mengiringinya memuat kaidah-kaidah keimanan dan ketakwaan tersebut.
Manusia adalah mahluk religius. Sejak zaman dahulu nenek moyang manusia meyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan kekuatan tersebut ditempuh dengan ritual agama.
Beragama merupakan kebutuhan manusia, karena manusia adalah mahluk yang lemah memerlukan tempat bertopang demi keselamatan hidupnya. Agama sebagai sandaran manusia. Penanaman sikap dan kebiasaan beragama dimulai sedini mungkin, yang melaksanakan dikeluarga dan dilanjutkan melalui pemberian pendidikan agama di sekolah.
Kandungan dimensi keberagaman adalah iman dan takwa. Dalam dimensi ini terkandung pemahaman bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk mempercayai adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa serta mematuhi segenap aturan dan perintah-Nya. Keimanan dan ketakwaan ini dibahas dalam agama yang dianut oleh individu. Kitab suci agama serta tafsir yang mengiringinya memuat kaidah-kaidah keimanan dan ketakwaan tersebut.
2.3 Pengembangan Dimensi-dimensi Manusia
Hakikat
dan eksistensi manusia, masing-masing dimensinya dapat dikembangkan sehingga
dapat membentuk kepribadian manusia.
1. Pengembangan Manusia sebagai Mahluk
Individu
Pendidikan harus mengembangkan anak didik mampu menolong dirinya sendiri. Untuk dapat menolong dirinya sendiri, anak didik perlu mendapat berbagai pengalaman di dalam pengembangan konsep, prinsip, generasi, intelek, inisiatif, kreativitas, kehendak, emosi/perasaan, tanggungjawab, keterampilan ,dll. Dengan kata lain, anak didik harus mengalami perkembangan dalam kawasan kognitif, afektif dan psikomotor.
Sebagai mahluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif, dan hal-hal ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan dan proses belajar. Di atas telah dikatakan bahwa perwujudan manusia sebagai mahluk individu (pribadi) ini memerlukan berbagai macam pengalaman. Tidaklah dapat mencapai tujuan yang diinginkan, apabila pendidikan terutama hanya memberikan aspek kognitif (pengetahuan) saja sebagai yang sering dikenal dan diberikan oleh para pendidik pada umumnya selama ini. Pendidikan seperti ini disebut bersifat intelektualistik, karena hanya berhubungan dengan segi intelek saja. Pengembangan intelek memang diperlukan, namun tidak boleh melupakan pengembangan aspek-aspek lainnya sebagai yang telah disebutkan di atas.
Pendidikan harus mengembangkan anak didik mampu menolong dirinya sendiri. Untuk dapat menolong dirinya sendiri, anak didik perlu mendapat berbagai pengalaman di dalam pengembangan konsep, prinsip, generasi, intelek, inisiatif, kreativitas, kehendak, emosi/perasaan, tanggungjawab, keterampilan ,dll. Dengan kata lain, anak didik harus mengalami perkembangan dalam kawasan kognitif, afektif dan psikomotor.
Sebagai mahluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif, dan hal-hal ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan dan proses belajar. Di atas telah dikatakan bahwa perwujudan manusia sebagai mahluk individu (pribadi) ini memerlukan berbagai macam pengalaman. Tidaklah dapat mencapai tujuan yang diinginkan, apabila pendidikan terutama hanya memberikan aspek kognitif (pengetahuan) saja sebagai yang sering dikenal dan diberikan oleh para pendidik pada umumnya selama ini. Pendidikan seperti ini disebut bersifat intelektualistik, karena hanya berhubungan dengan segi intelek saja. Pengembangan intelek memang diperlukan, namun tidak boleh melupakan pengembangan aspek-aspek lainnya sebagai yang telah disebutkan di atas.
2. Pengembangan Manusia sebagai Mahluk
Sosial
Manusia adalah mahluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan secara seorang diri saja. Kehadiran manusia lain dihadapannya, bukan saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan sarana untuk pengembangan kepribadiannya. Kehidupan sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya dimungkinkan tidak saja oleh kebutuhan pribadi seperti telah disebutkan di atas, tetapi juga karena adanya bahasa sebagai alat atau medium komunikasi. Melalui pendidikan dapat dikembangkan suatu keadaan yang seimbang antara pengembangan aspek individual dan aspek sosial ini. Hal ini penting untuk pendidikan di Indonesia yang berfilasafah pancasila, yang menghendaki adanya perkembangan yang seimbang antara aspek individual dan aspek sosial tersebut.
Manusia adalah mahluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan secara seorang diri saja. Kehadiran manusia lain dihadapannya, bukan saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan sarana untuk pengembangan kepribadiannya. Kehidupan sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya dimungkinkan tidak saja oleh kebutuhan pribadi seperti telah disebutkan di atas, tetapi juga karena adanya bahasa sebagai alat atau medium komunikasi. Melalui pendidikan dapat dikembangkan suatu keadaan yang seimbang antara pengembangan aspek individual dan aspek sosial ini. Hal ini penting untuk pendidikan di Indonesia yang berfilasafah pancasila, yang menghendaki adanya perkembangan yang seimbang antara aspek individual dan aspek sosial tersebut.
3. Pengembangan Manusia sebagai Mahluk
Susila
Setiap masyarakat dan bangsa mempunyai norma-norma, dan nilai-nilainya. Melalui pendidikan kita harus mampu menciptakan manusia susila dan harus mengusahakan anak-anak didik kita menjadi manusia pendukung norma, kaidah dan nilai-nilai susila dan sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Norma, nilai dan kaidah tersebut harus menjadi milik dan selalu dipersonifikasikan dalam setiap sepak terjang, dan tingkah laku tiap pribadi manusia.
Pentingnya mengetahui dan menerapkan secara nyata norma, nilai, dan kaidah-kaidah masyarakat dalam kehidupannya mempunyai dua alasan pokok,yaitu :
1. Untuk kepentingan dirinya sendiri sebagai individu. Apabila individu tidak dapat menyesuaikan diri dan tingkah lakunya tidak sesuai dengan norma, nilai dan kaidah sosial yang terdapat dalam masyarakat maka dimanapun ia hidup tidak dapat diterima oleh masyarakat.
2. Untuk kepentingan stabilitas kehidupan masyarakat itu sendiri. Masyarakat telah menghasilkan dalam perkembangannya aturan-aturan main yang kita sebut norma, nilai, dan kaidah-kaidah sosial yang harus diikuti oleh anggotanya. Norma, nilai dan kaidah-kaidah tersebut merupakan hasil persetujuan bersama untuk dilaksanakan dalam kehidupan bersama, demi untuk mencapai tujuan mereka bersama. Dengan demikian, kelangsungan kehidupan masyarakat tersebut sangat tergantung pada dapat tidaknya dipertahankan norma, nilai dan kaidah masyarakat yang bersangkutan.
Setiap masyarakat dan bangsa mempunyai norma-norma, dan nilai-nilainya. Melalui pendidikan kita harus mampu menciptakan manusia susila dan harus mengusahakan anak-anak didik kita menjadi manusia pendukung norma, kaidah dan nilai-nilai susila dan sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Norma, nilai dan kaidah tersebut harus menjadi milik dan selalu dipersonifikasikan dalam setiap sepak terjang, dan tingkah laku tiap pribadi manusia.
Pentingnya mengetahui dan menerapkan secara nyata norma, nilai, dan kaidah-kaidah masyarakat dalam kehidupannya mempunyai dua alasan pokok,yaitu :
1. Untuk kepentingan dirinya sendiri sebagai individu. Apabila individu tidak dapat menyesuaikan diri dan tingkah lakunya tidak sesuai dengan norma, nilai dan kaidah sosial yang terdapat dalam masyarakat maka dimanapun ia hidup tidak dapat diterima oleh masyarakat.
2. Untuk kepentingan stabilitas kehidupan masyarakat itu sendiri. Masyarakat telah menghasilkan dalam perkembangannya aturan-aturan main yang kita sebut norma, nilai, dan kaidah-kaidah sosial yang harus diikuti oleh anggotanya. Norma, nilai dan kaidah-kaidah tersebut merupakan hasil persetujuan bersama untuk dilaksanakan dalam kehidupan bersama, demi untuk mencapai tujuan mereka bersama. Dengan demikian, kelangsungan kehidupan masyarakat tersebut sangat tergantung pada dapat tidaknya dipertahankan norma, nilai dan kaidah masyarakat yang bersangkutan.
4. Pengembangan Manusia sebagai Mahluk Religius
Sebagai anggota masyarakat dan bangsa yang memiliki filsafat Pancasila kita dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran pancasila sebaik-baiknya. Sebagai anggota masyarakat yang dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Pancasila, maka kepada masing-masing warga negara dengan demikian juga dituntut untuk dapat melaksanakan hubungan dengan Tuhan sebaik-baiknya menurut keyakinan yang dianutnya masing-masing, serta untuk melaksanakan hubungan sebaik-baiknya dengan sesama manusia dan dengan lingkungan.
Sebagai anggota masyarakat dan bangsa yang memiliki filsafat Pancasila kita dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran pancasila sebaik-baiknya. Sebagai anggota masyarakat yang dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Pancasila, maka kepada masing-masing warga negara dengan demikian juga dituntut untuk dapat melaksanakan hubungan dengan Tuhan sebaik-baiknya menurut keyakinan yang dianutnya masing-masing, serta untuk melaksanakan hubungan sebaik-baiknya dengan sesama manusia dan dengan lingkungan.
2.4 Sosok Manusia
Indonesia
Sosok manusia Indonesia seutuhnya telah di rumuskan di
dalam GBNH mengenai arah pembangunan jangka panjang. Dinyatakan bahwa
pembangunan nasional dilaksanakan di dalam rangka pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini berarti bahwa
pembangunan itu tidak hanya mengejar kemajuan lahirlah, sperti pangan, sandang,
perumahan, kesehatan atupun kepuasaan batiniah seperti pendidikan, rasa aman,
bebas mengeluarkan pendapat yang bertanggung jawab atau rasa keadilan,
melainkan keselarasan, keserasian dan kseimbangan antara kedua sekaligus
batiniah.
Selanjutnya juga diartikan bahwa pembangunan itu
merata diseluruh tanah air, bukan hanya untuk golongan atau sebagian dari
masyarakat. Salanjutnya juga di artikan sebagai keselarasan hubugan antara
manusia dan tuhannya, antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan
alam sekitarnya, keserasian hubungan antara bangsa-bangsa dan juga keselarasan
antara cita-cita hidup di dunia dengan kebahagiaan diakhirat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disumpulkan bahwaManusia
merupakan makhluk yang sempurna. Kepribadian manusia memiliki sifat yang unik,
potensial dan dinamis. Pemenuhan kebutuhan dan pengembangan diri manusia itu
tampaknya memang dapat dilaksanakan dari, untuk dan oleh manusia itu sendiri.
Pernyataan bahwa “manusia dengan segenap perkembangan budayanya adalah dari
manusia, untuk manusia, dan oleh manusia”, mengimplikasikan bahwa manusia
memang hebat, bisa berbuat dan membuat apa saja, untuk kehidupan
kemanusiaannya, sesuai dengan kebutuhan dan kemauaannya.
Manusia juga memiliki akal untuk menghadapi kehidupannya di dunia ini. Akal juga memerlukan pendidikan sebagai obyek yang akan dipikirkan. Fungsi akal tercapai apabila akal itu sendiri dapat menfungsikan, dan obyeknya itu sendiri adalah ilmu pengetahuan. Maka dari itu, manusia pada hakikatnya adalah makhluk peadagogis, makhluk sosial, makhluk individual, dan makhluk beragama.
Manusia juga memiliki akal untuk menghadapi kehidupannya di dunia ini. Akal juga memerlukan pendidikan sebagai obyek yang akan dipikirkan. Fungsi akal tercapai apabila akal itu sendiri dapat menfungsikan, dan obyeknya itu sendiri adalah ilmu pengetahuan. Maka dari itu, manusia pada hakikatnya adalah makhluk peadagogis, makhluk sosial, makhluk individual, dan makhluk beragama.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno. 2009.
Dasar Teori dan Praksis. Jakarta : Grasindo.
http://nie07independent.wordpress.com/hakikat-manusia/
http://qym7882.blogspot.com/2009/04/hakikat-manusia-dan-pengembangannya.html
http://muhammadmuslih06.blogspot.com/2012/12/hakikat-manusia-dan-pengembangannya.html
http://nie07independent.wordpress.com/hakikat-manusia/
http://qym7882.blogspot.com/2009/04/hakikat-manusia-dan-pengembangannya.html
http://muhammadmuslih06.blogspot.com/2012/12/hakikat-manusia-dan-pengembangannya.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar